Aku Pantang Menyerah
Semua perjalana hidup yang telah kulalui menyimpan banyak arti . Masa-masa hitam dimasa lalu telah sirna seiring waktu . Kehidupan dijalanan memanglah begitu keras , persaingan semakin terasa ketika perut mulai berkata "Lapar". Aku hidup dari mereka-mereka yang mengulurkan tangannya , sebelum aku berpikir , untuk apa aku seperti ini. Hanya mengemis dan meminta belas kasihan dan hanya luran tangan dan wajah prihatinku yang aku tawarkan untuk hidup. Kolong-kolong jembatan adalah tempatku berlindung dari malam , tak ada pelukan atau selimut yang menghangatkan , hanyoa mentari pagi yang selalu setia hangati . Aku hidup sebatang kara , tetapi aku memiliki jaringan pertemanan yang luas, hatiku memang sunyi dan sepi ketika melihat orang lain bersama orangtuanya. Saat siang bisa asyik bermain , saat sore bisa berkumpul dengan keluarga, saat bermimpi buruk dimalam hari pun orang-orang disekitar selalu ada, tak perlu lari , tak perlu bingung untuk mencari siapa yang akan menemani .
Hari demi hari membuat aku berpikir , dari setiap uang yang aku dapatkan digunakan untuk sesuatu yang lebih berarti.
Aku memulai usahaku dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik yang berserakan, yang tidak jauh seperti hidupku bahkan mungkin sampah bisa menjadi lebih berguna dari pada hidupku.
Tapi ini bukan akhir cerita perjalanan hidupku.
Komentar
Posting Komentar